Sabtu, 08 Mei 2010

If (Stupid Quote)

If no one understand you, then you should understand people.
If no one care about you, find place that you can be alone and have fun with yourself.
If no one love you, let's looking for the pets that will love you forever like 'Hachiko'.
If no one need you, it would be NICE. So, you don't have to help someone but, someone can help you anywhere, anytime.
If your boyfriend/girlfriend don't love you anymore, you can sing the stupid broken heart song all night long.
If your parents hate you, then kill yourself. LOL.
If your holiday is such a bad, wishing someone like Robert Pattinson kidnap you to Disneyland and won't give you back to your hometown.
If school is sucks, let's go to the college.
If you get very bad score in some subject, you have to burn the score script.
If you bored, read and like this post.
If no one read and like this post, it must be i am a stupid quote maker. :D

Jumat, 07 Mei 2010

Ada Apa Dengan Saya? *Curhat Mode: On

Especially for someone out there.. Gue nggak bisa bikin puisi, karena gue bukan tipe cewek yang puitis. Jadi, gue cuma bisa menjabarkan isi hati gue (duileh! lebay..) dengan cara seperti ini, posting di blog dan apa adanya, tidak dibuat-buat, apalagi hiperbola. Semua yang gue tulis di postingan yang satu ini jujur dari lubuk hati gue terdalam. Oke, actually i do really confuse how to start it.
Intinya, i love him. Sudah 8 bulan berjalan hubungan kami, tapi semakin hari adaaa aja masalah yang bikin kami berdua jadi suka berantem. Gue benci! Gue nggak suka berantem sama pacar! Apa yang harus diubah dari diri gue? Bingung. Kalo gue diem namanya gue lagi nahan kesel, kalo gue marah-marah yaa kasian pacar gue lah kena omelan gue terus. Kata teman-teman, Devina Janice itu kalo lagi marah sumpah demi apapun asli nggak bohong MUKANYA NYEBELIN BANGET! Maka dari itu gue nggak pernah mau berkaca kalo gue lagi marah. Takut ngeliat muka sendiri. Menyedihkan ya.. Ini muka ciptaan yang Maha Kuasa eh, tapi gue nggak bisa mempergunakan muka gue dengan baik seperti senyum, dan tetap tersenyum walaupun dalam hati berkecamuk pengen ngamuk sama ngomel-ngomel nggak jelas. Yang paling menyedihkan lagi adalah.. kenapa gue harus marah-marah sama pacar gue? Kenapa gue nggak marah-marah sama tembok aja atau sama boneka-boneka gue, seenggaknya mereka benda mati, kalau gue omelin mereka nggak bakalan denger, kalau gue pukul mereka nggak akan kesakitan. Padahal, mungkin gue bisa membicarakan masalah kami dengan santai, kepala dingin dan nggak pake nada tinggi, tetapi.. lagi-lagi kenapa gue nggak bisa mengontrol emosi gue sendiri ya? Gue sok banget kayak orang punya penyakit darah tinggi, hahaha.. padahal baru aja diukur tensi darah kemarin, eh ternyata gue termasuk orang yang darah rendah.
I apologize for my T.
Devina Janice akan mengontrol emosi untuk kedepannya. Semoga bisa. Amin.

Pengen, sih ke psikolog lalu gue akan menanyakan 5 pertanyaan berikut:
1. Apa kabar Pak/Bu? Saya mau konsultasi, nih ada waktu nggak?
2. Kenapa ya saya suka marah?
3. Gimana caranya biar nggak suka marah?
4. Ada Obatnya nggak?
5. Kalo ada saya mau dong?

Kasihan my T, my family, and my friends kalau harus ngeliat gue suka marah-marah. Di umur gue yang 16 tahun ini, seharusnya gue tambah dewasa, bukannya makin childish dan kisruh. Ada apa dengan saya? Saya cuma butuh 3 yaitu, sabar, sabar dan sabar.
Masalah baru muncul akhir-akhir ini, yang seharusnya masalah itu nggak ada kalau gue mau bersabar sedikit aja. I don't really know.. Sebenarnya, pacar gue itu merasa beruntung atau apes punya pacar seorang gue? Orang tua gue merasa bangga atau tidak punya anak seperti gue? Apakah teman-teman gue merasa jengkel sama sikap gue?
Mulai hari ini, gue harus merubah sikap gue 180 derajat! Terima kasih kepada emosi-emosi gue yang sudah membantu gue dalam memperbanyak masalah, hahahaha.. and now, goodbye! I want to find the way how to make my life and all the people around me feel happy when they meet me, talk to me, listen to me, and hang out with me. For sixteenth years, I've been really BAD and SUCKS!
Goodbye Girl In Me.. Hello Woman In Me!

Jumat, 02 April 2010

Kelas Sepuluh

Apa rasanya jadi pelajar kelas sepuluh SMA? Gue bakal buka-bukaan disini, jujur.. nggak enak! Gue harus mempelajari semua mata pelajaran tanpa terkecuali:
Fisika
Kimia
Biologi
Geografi
Sosiologi
Ekonomi
Sejarah
Matematika
Bahasa Inggris
Bahasa Indonesia
Bahasa Sunda (gue juga masih nggak ngerti kenapa pelajaran ini harus ada)
Olahraga
Komputer
Seni Musik

Dari semua pelajaran diatas, gue dituntut untuk mendapatkan nilai A di dalam semua mata pelajaran tersebut. What the argh! Gue sangat mengerti jikalau nilai rapot SMA itu penting untuk masuk universitas nanti, TAPI tolong perhatikan subject i'm not good at, like chemistry, physic, math, computer. Apakah salah kalo nilai gue sangat merosot pada mata pelajaran tersebut? Hei! Kepintaran setiap anak tidak diukur dari bagus atau tidaknya nilai pada semua mata pelajaran. Jadi, jangan judge nilai saya merosot untuk umum, apabila nilai yang merosot itu hanya ada di pelajaran kimia, matematika, komputer, fisika. I'm normal, sampai detik ini pun gue masih nggak pernah tahu IQ gue itu bernilai berapa. Tolong untuk orang terdekat gue yang baca postingan ini mengerti dan tidak terlalu menuntut nilai yang perfect pada setiap mata pelajaran. Gue biasa aja, nggak ada hebatnya, manusia normal yang bisa merasa bosan, jenuh, and want to breakaway! Kenapa harus takut punya nilai jelek kalau memang kamu tidak pandai dalam bidang tersebut? You're perfect in your field, not in any fields.
Kadang gue suka bingung, kenapa pada umumnya guru-guru di sekolah selalu menilai anak itu pintar atau tidak dari nilai pada semua mata pelajarannya. Apabila, si A selalu mendapat nilai bagus pada semua mata pelajaran, maka ia akan dicap pintar oleh para guru, sedangkan si B yang hanya pintar di dalam satu bidang, and only perfect in her field, guru-guru hanya berkomentar "Si B biasa aja." Sekali lagi, what the argh!
Tidak hanya itu saja, kadang pada umumnya guru-guru di sekolah hanya menganggap pintar murid-murid 'IPA' yang jago fisika, kimia, matematika dan biologi. Sedangkan, murid 'IPS' kadang dianggap tidak secerdas dan sepintar murid kelas IPA. That's absolutely NOT TRUE. Murid IPA = Murid IPS. Bedanya hanya satu, IPA pandai dalam hal hitung-menghitung, IPS pandai dalam hal bersosialisasi. Tidak ada anak bodoh di dunia ini, anak bandel tukang cabut nggak pernah masuk sekolah terus ngerokok kerjaannya nongkrong pun adalah anak pintar dan cerdas (actually), tapi sayangnya kepintaran dan kecerdasan mereka digunakan hanya untuk melakukan sesuatu yang negatif (anak bandel pintar membuat alasan di depan orang tua mereka untuk kenakalan dan mengendap-endap untuk cabut sekolah, tetapi anak rajin nggak akan pernah bisa melakukan hal yang sama). Kepintaran setiap anak hanya berbeda kadar dan jenisnya saja, tapi yang pasti tidak ada anak yang bodoh.
Gue sangat berharap dan akan sangat senang apabila tidak ada guru yang mengatakan salah satu anak muridnya bodoh atau biasa saja atau juga kurang pintar, tetapi berkata, "semua anak murid saya adalah anak yang pintar, dan mereka hanya perlu bimbingan dan motivasi untuk menggali setiap kepintaran mereka."
Begitulah, opini gue selama menjadi murid kelas sepuluh. Bosan.. High School isn't fair I think. Psikologi pelajar adalah yang paling penting untuk menjalani aktivitas sekolah mereka. Jangan menjudge, menyindir apalagi menghina mereka yang sedang dalam keadaan malas, dan sejenisnya. Tapi, motivasilah mereka.. Mengerti setiap kepintaran mereka pada bidang yang pastinya berbeda. Hmm.. Mungkin gue sok tahu, sok pintar dan opini gue diatas adalah bodoh. Tapi, itu yang gue rasakan selama menjadi murid kelas sepuluh. No lie.

Kamis, 25 Maret 2010

Radio Dangdut

Senin kemarin, gue bersama 4 teman lainnya pergi ke stasiun radio yang ada di Bekasi. Sebut saja nama stasiun radionya Mawar Merah Fm. Dengan bangganya, sehari sebelum berangkat kesana gue cerita sama pacar, papa dan mama. Gue bilang, 'Aku besok mau ke Mawar Merah Fm, dong! Ada pelatihan jurnalistik disana.' sumringah.
Komentar Pacar:
Hah? Itu kan radio dangdut. Cie, ganti genre musik, nih sekarang. (sambil ketawa-tawa)
Komentar Papa:
Oh.
Komentar Mama:
Dimana, tuh? Itu radio apa? Mama nggak tau.
Ternyata, komentar yang keluar tidak seperti yang gue harapkan. Dan, gue juga baru tahu kalau Mawar Merah Fm itu adalah stasiun radio dangdut! Percaya nggak percaya, akhirnya gue nyalakan radio and i listen to Mawar Merah Fm. Benar sekali! Lagunya lagu dangdut yang kayak di pasar-pasar. Tapi, bagi gue nggak masalah, sih. Lagipula gue disana kan mau pelatihan jurnalistik. Gue berencana berangkat pukul 7 pagi, tapi pada saat hari H pukul 7 kurang 15 menit mata masih mengantuk dan nggak bisa bangun, akhirnya gue bersama 4 teman lainnya janjian berangkat pukul 8 pagi. Di angkot pertama, kami masih ketawa-tawa dan udara pun masih belum terasa panas. Pada saat naik angkot kedua, keadaan berubah. Panas, haus, dan gue merasa perjalanan menuju kesana jauh banget.
Sampai disana, kami masih berjalan kaki untuk mencari tempat tersebut. Terjadi percakapan berikut:
A: Di aula Mawar Merah Fm ada AC-nya nggak ya? Pengen ngadem, nih.
B: Pasti ada, lah. (yakin banget)
Saat kami masuk ke dalam, jengjerengjengnitniw.. Pengap banget, tidak ada AC. Yang ada malah kipas angin. Aduh!
Kami pun langsung duduk di barisan paling depan. Terdengar lagu pop Indonesia yaitu The Virgin yang Cinta Terlarang, bersyukur sekali bukan lagu dangdut yang diperdengarkan. Eh, tapi sesaat kemudian, lagu The Virgin jadi macet-macet gitu kayak error. 'Tu tu tu han.. berikan a a a aku hidup dup dup satu kali li li li lagi..' Cacat banget.
Acara dimulai dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Pulang dari sana, badan lemas, mandi keringat. Fiuh.. Untung nggak bayar, terus dapet map, pulpen, memo sama sertifikat. Lumayan, makan siangnya juga enak, ayam bakar terus snacknya risol, gue dapet teh botol lagi! Hehehe..
Ada banyak ilmu yang gue dapet dari sana, walaupun 2 jam pertama gue merasa seperti anak kuliahan yang mendengar dosen ngoceh tentang pengertian jurnalistik yang bikin gue ngantuk setengah tidur, tapi pada jam-jam selanjutnya para pembicara bisa bikin gue semangat lagi walaupun hawa pada saat itu sangat panas.
Sebelum pulang, ada acara muter-muter ruang siaran. Ya gitu, deh biasa aja. Menang dingin. Selebihnya biasa aja kayak ruang siaran pada umumnya. Setelah selesai, gue pulang, deh. The End.

Selasa, 02 Maret 2010

Seret Aku ke Neraka! Oh, Tidaaak!

Seret Aku ke Neraka yang dalam Bahasa Inggris artinya Drag Me To Hell adalah film bioskop yang sudah keluar berbulan-bulan lalu, tepatnya pada tahun 2009. Karena gue termasuk orang yang suka banget sama film horror ekstrim kayak shutter, the ring, dan film-film horror Thailand sama Jepang lainnya, jadi gue kurang tertarik sama film yang posternya gambar cewek bule lagi teriak sok dramatis banget itu. Gue males nontonnya, gue pikir juga nggak begitu seram dan nggak bakal bikin gue ketakutan setengah mati. Tapi, setelah gue baca salah satu blog temen gue, katanya film Drag Me To Hell, tuh benar-benar ekstrim, serem mampus sampai-sampai teman gue itu nggak bisa tidur. Hmm.. tentunya gue jadi penasaran. Kayak apa, sih filmnya?
Alhasil, setahun kemudian yaitu pada tanggal 23 Maret kemarin gue sama pacar gue jalan ke Ambas buat beli itu film. Pas gue tonton, gue kira bakalan seram banget sampai buat gue teriak-teriak. Eh, setelah gue ikutin alur ceritanya mulai dari awal sampai akhir, biasa aja, tuh. Malahan, bukannya gue teriak ketakutan, gue malah ketawa-ketawa sama si pacar. Banyak adegan yang terlalu berlebihan seperti di scene berikut: 'si cewek bule mimisan, ada darah keluar dari hidung, tiba-tiba saja darahnya menetes terus semakin banyak, eh ada bos si cewek bule itu nongol terus nanyain keadaan si cewek bule, nah pas si cewek bule mau ngomong, tiba-tiba aja si cewek bule muntah darah deras banget kayak air terjun tumpah dari mulut tapi bedanya ini darah bukan air. Pas mulutnya ditutup sama si cewek, biar muntahannya nggak jatuh ke lantai, tiba-tiba dari hidungnya keluar lagi darah, tapi keluarnya darah dari hidung si cewek bule itu aneh banget, darah keluar bagaikan air yang keluar dari selang semprotan.' Itu baru scene pertama yang membuat gue ngakak abis-abisan. Ada lagi, scene berikut yang kocak, 'si cewek bule lagi mau makan kue, tiba-tiba saja ada mata di dalam kuenya, matanya kedap-kedip lagi.' Aduh, nggak serem sama sekali. Masih banyak scene yang bikin gue ketawa, ada satu scene terakhir yang nggak kalah jayusnya, 'ada seorang cowok kerasukan roh jahat, tiba-tiba dia terbang dan badannya goyang-goyang kayak mas-mas lagi dangdutan.' Dalam hati gue, loh kok kerasukan efeknya goyang dangdut kayak gini ya? Please banget, deh. That wasn't scared me.
Kesimpulannya, film Drag Me To Hell biasa aja. Secara umum, bagus. That's it. Mau tahu ceritanya tentang apa? Silakan baca sinopsisnya sendiri, find it with Google.

Sabtu, 13 Februari 2010

Para Pengunjung Blog

Blog ini gue bikin cuma buat menyalurkan aspirasi dan cerita-cerita gue yang nggak penting doang. Gue cuma share blog ini sama temen-temen gue di sekolah. Udah, sama mereka doang. Karena apa? Karena gue nggak mengenal 'malu' kalo lagi bareng mereka, jadi nggak masalah bagi gue kalo blog gue ini dibaca-baca dan dikomentarin secara nggak wajar oleh temen-temen gue sendiri. Tapi, masalah besar bagi gue KALAU yang mengunjungi blog gue itu, sang pacar, papa, sama sodara-sodara gue. And now, itu semua sudah terjadi. Pacar sudah baca abis postingan gue dari awal sampai postingan terakhir, papa juga begitu dan sodara-sodara gue pun samanya. 4 kata dari gue, ARGH! Dan berikut adalah komentar-komentar mereka:
Pacar: Ternyata kamu tuh warna-warni ya.
Baiklah kalau begitu, lebih baik warna-warni kayak spidol snowman daripada hitam kayak pensil 2b.
Papa: Emang kamu dulu pernah pengen jadi pelukis? (baca postingan: cita-cita?)
Iya pernah. Gara-gara dulu keseringan gambar pegunungan yang di tengah-tengahnya ada matahari.
Sodara 1: Kok nggak ada cita-cita mau jadi penyanyi sih?
Dipikir nanti.
Sodara 2: Kok nama blognya Janice's Stupid Story? Aneh banget.
Belum nemu nama blog yang komersil, jadi sementara pakai nama itu dulu. LOL.
Itulah komentar-komentar sementara dari pengunjung blog gue. Semoga tidak ada lagi yang berkomentar dan nanya ini-itu tentang postingan yang ada disini. Karena jawaban yang akan gue berikan nanti cuma satu, eh dua deh: tersenyum sambil nyengir.
Tapi, terima kasih sekali yang sudah menyempatkan waktu buat baca-baca blog gue. Saya sangat tersandung. Semoga isi postingan gue ini bisa lebih bodoh untuk ke depannya. :)

Jumat, 05 Februari 2010

Cita-Cita?

Awalnya, waktu Gue kelas 4 SD, Gue pengen banget jadi pelukis, tapi kata mama, "Ngapain Kamu jadi pelukis? Nggak ada duitnya." Berhubung Gue masih anak kecil yang tidak tahu apa-apa jadi tentu saja Gue mengelak dan tetap bersikeras untuk menjadi pelukis. Tetapi, seiringnya berjalannya waktu dan Gue pun tumbuh dewasa, tepatnya kelas 6 SD, Gue menyadari kebenaran nasihat orang tua Gue yang mengatakan bahwa pelukis itu nggak ada duitnye. Jadi, Gue memutuskan untuk mengganti cita-cita Gue yang dahulu menjadi tidak ada cita-cita karena belum dipikirin lagi Gue mau jadi apa. Yah.. Begitulah pahitnya masa-masa mengambang. Jadi, setiap ditanya oleh Bapak Kepala Sekolah, "Disini ada yang tidak punya cita-cita?" Wow! Pertanyaan yang sangat sulit sekali. Gue mau mengacungkan jari telunjuk tapi malu, alhasil Gue diem aja, berpura-pura menjadi orang yang punya cita-cita. Actually, I did not. Masa itu berlangsung sampai dengan Gue masuk kelas 1 SMP. I still did not have any plan for my future. Pada saat kakak-kakak MOS bertanya, "Kamu mau jadi apa?" dengan gampangnya Gue menjawab, "Astronot, Kak." Kemudian si kakak pun berkata, "Kalo gitu, sekarang kamu peragain gaya astronot kalo lagi di luar angkasa." Jeger! Gimana gayanya? Salto? Goyang ngebor? Atau gaya pura-pura ngambang? Aduh, kapok deh Gue asal jawab cita-cita Gue lagi.
Naik ke kelas 2 SMP, Gue menemukan cita-cita Gue! Dan ternyata cita-cita Gue selama ini ngumpet dibalik kolong tempat tidur (loh?) Yap! Gue memutuskan untuk menjadi penyiar radio saja. Pekerjaan yang menyenangkan, tinggal cuap-cuap terus dapet upah yang lumayan besar, makin eksis dan terkenal pula. Mantap. Tetapi, pada suatu hari ada seseorang sahabat baik yang berkata kepada Gue, mengomentari keputusan cita-cita Gue untuk menjadi penyiar radio, "Lo mau jadi penyiar radio? Ih, cetek banget cita-cita lo." WHAAAAAT?! Rasanya seperti dihujam seribu tombak dan ditohok oleh satu juta garpu. Karena mendengar komentarnya, Gue pun memutuskan. Waktunya ganti cita-cita. Lagi.
Kelas 3 SMP, Gue pengen jadi Ibu Rumah Tangga yang baik hati dan punya usaha sendiri yaitu membuka Rental DVD. Hahahaha.. itu adalah sebuah cita-cita yang konyol dan tidak akan membuat orang tua Gue bangga, akhirnya Gue mengganti cita-cita Gue lagi.
Now, I'm sixteenth. Kata orang, MALU WOY NGGAK PUNYA CITA-CITA! Jadi, I have decided. I want to be a DIPLOMAT. Bekerja di Departemen Luar Negeri, nantinya Gue akan dikirim ke negara ini negara itu untuk melaksanakan tugas dan amanat dari negeri tercinta Republik Indonesia. Ini adalah pilihan terakhir Gue. Dan.. Gue harus mewujudkannya.